Loading...
Our Story 2018-02-15T04:11:49+00:00
401, 1938

SEJARAH WISNU JKW

0 Comments

Sebuah Racikan dari tangan seorang wanita yang gigih

Mendengar nama Jamu WISNU JKW, tidaklah mungkin bisa lepas dari sosok wanita yang bernama Ibu Yoso Hartono. Betapa sehat dan bugarnya ia dalam usia 79 tahun ( pada tahun 1990). Wanita kelahiran Purwodadi ini, selepas menikah pada tahun 1932, ia tinggal di Solo bersama suaminya dan pada tahun 1937 beliau pindah ke Nguter, Sukoharjo.

Satu tahun setelah kepindahannya barulah terbersit ide untuk berjualan jamu. Merupakan satu keinginan yang muncul karena pengalaman pahit yang kebetulan ia temui. Usahanya menjual pakaian jadi selalu merugi, akhirnya jamulah yang ia tekuni. Beras kencur, Kunir asem, dan pahitan adalah jamu hasil olahannya pada waktu itu.

Dari hasil penjualan minuman olahannya yang satu gelas dihargai setengah sen, sehari beliau mampu mengumpulkan lima belas sen, merupakan rejeki yang terbilang besar waktu itu. Pada jaman itu, Nguter masih desa terpencil yang sangat jarang penduduknya. Gelas pun belum ada, masih memakai botol-botol yang dipotong.

Berawal dari jamu minuman yang mulai laris dan dapat diterima oleh pasar itulah yang pada akhirnya Ibu Yoso memberanikan untuk meracik jamu godogan. Racikan dari bahan-bahan alami ia siapkan dibantu dengan anak-anaknya. Dengan kemasan yang masih sangat sederhana itulah Ibu Yoso tekun dengan apa yang ia lakukan.

Usaha jamu Ibu Yoso memang bukan terbesar di kawasan Nguter, tetapi jika dikatakan “terdepan”, memanglah begitu kenyataannya. Dibantu oleh salah satu anaknya Leo, yang adalah seorang insinyur pertanian, lahirlah jamu kemasan pertama dari usaha Ibu Yoso dengan merk Kresno dan Joglo. Gebrakan itulah yang diikuti oleh sekian banyak tetangganya.

Hidup dengan prinsip yang sederhana “ Setiap pengusaha memiliki cara mengolah jamu, memiliki merk sendiri dan rejeki sendiri-sendiri” itulah yang menjadikan persaingan antara pengusaha jamu pada waktu itu tercipta secara sehat. Untuk membuat jamu yang memiliki khasiat yang baik, kuncinya hanya ada pada bahan baku yang baik, selebihnya cara meracik dan yang paling penting pengetahuan tentang jamu itu sendiri.

Tahun 1983 untuk pertama kali usaha jamu Ibu Yoso mendapatkan ijin untuk produksi secara resmi dengan Cap Joglo. Dilanjutkan proses suksesi berjalan dengan sangat baik (kepada anaknya Leo serta dibantu dengan adiknya Yuli sebagai tenaga pemasarnya) dikarenakan telah sekian waktu bersama ikut berkecimpung dalam usaha jamunya. Produk-produk dengan bahan baku pilihan telah berhasil mengantarkan usaha jamunya sebagai market leader dikelasnya pada waktu itu.

Dengan adanya peraturan tentang ijin produksi Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) maka pada tahun 1999 jamu Cap Joglo memperbaharui ijin produksinya menjadi Perusahaan Jamu (PJ) WISNU. Hal ini menjadi bukti bahwa komitmen PJ. WISNU bukan hanya menyediakan produk-produk yang berkualitas unggul, tetapi juga membuka diri untuk dibina dan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

Pada awal tahun 2001-an ruang lingkup pemasaran PJ. WISNU semakin meluas, beberapa pelanggan baru mulai bekerjasama untuk mendistribusikan produk-produk jamu PJ. WISNU, mulai dari Medan, Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lain di Kalimantan. Berbagai hal dilakukan untuk tetap menjaga kualitas produk jamu, salah satunya senantiasa berkomitmen untuk memakai bahan baku kualitas terbaik. Hal ini bukan saja untuk kepentingan konsumen tetapi juga menjadi tolak ukur bahwa PJ. WISNU adalah perusahaan jamu yang sangat menjaga mutu produk yang dilepas di pasaran.

Tahun 2013, PJ. WISNU memperbaharui ijin produksi IKOT menjadi UKOT sesuai peraturan yang berlaku, serta bertransformasi menjadi CV. WISNU JKW yang dibantu dengan Apoteker yang bekerja sepenuh waktu untuk memastikan kualitas/mutu setiap produknya.

Sekali lagi, komitmen kami untuk menyediakan produk yang berasal dari alam kemudian diolah menjadi produk terbaik untuk seluruh masyarakat Indonesia menjadi cambuk agar CV. WISNU JKW selalu menghasilkan produk dengan kualitas unggul